Tampilkan postingan dengan label pembahasankondisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembahasankondisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 September 2014

biologi perikanan,BUPER,



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  latar belakang
 Dengan majunya perkembangan teknologi di dunia ini adalah akibat banyaknya pertumbuhan penduduk disetiap wilayah. Ini diakibatkan karena sumber daya manusia pun meningkat. Apalagi sekarang pendidikan untuk setiap manusia menjaid prioritas utama di suatu wilayah. Dengan majunya teknologi sesuatu yang dulu mustahil menjadi mungkin saja terjadi. Pengetahuan manusia yang berkembang yang membuat dunia ini begitu berbeda dengan dahulu. Semua kebutuhan manusia menjadi sangat mudah terpenuhi.
            Namun, semua itu tidak lepasnya dari dampak negatif yang terjadi. Permasalahan – permasalahan pun timbul akibat kemajuan teknologi. Akibat keserakahan manusia yang terkena imbas akibat ulah manusia adalah alam. Pencemaran terjadi dimana – mana baik di darat, perairan, udara dan yang lainnya terkena akibat dampak kemajuan teknologi tersebut.
            Salah satunya adalah masalah yang ada di perairan yang saat ini sering terjadi. Ada beberapa indicator yang dapat kita lihat dalam menentukan suatu perairan masih baik atau sudah tercemar yaitu :
ü  Faktor fisika : tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan warna, bau dan rasa, bahan padat (solid), gaya antar listrik, radioaktifitas, dan viskositas.
ü  2. Faktor kimia : zat kimia yang terlarut, perubahan pH, potensial reduksi – oksidasi, alkalinitas, kesadahan, asiditas, kebutuhan oksigen, hydrogen, dan fosfat.
            pH merupakan salah satu hal penting dalam menentukan kualitas air suatu perairan. pH umumnya mengalami peningkatan akibat dari perairan yang sudah tercemar oleh ulah manusia itu sendiri. Itu karena banyaknya limbah, ataupun bahan organic dan anorganik yang mencemari perairan tersebut. Walaupun ada beberapa factor lain yang dapat menyebabkan itu terjadi selain ulah manusia.
1.2  tujuan praktikum
Tujuan dari praktikum ini dilaksanakan adalah, agar mahasiswa dapat mengetahui kondisi fisik dan tingkah laku dari ikan ketika berada pada media air memiliki kondisi asam dan basa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8,5. nilai pH sangat mempaengaruhi proses biokomia perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Sedangkan menurut Haslam, 1995 (dalam Effendi, 2003) menambahkan bahwa pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertolerensi terhadap pH rendah, (Novotny dan Olem, 1994).
Tingginya tingkat CO2 bebas dalam air dihasilkan dari proses perombakan bahan organic dan mikroba. Kadar karbondioksida bebas yang dikehendaki tidak lebih dari 12 mg/l dan kandungan terendah adalah 2 mg/l. Kandungan karbondioksida bebas diperairan tidak lebih dari 25 mg/l dengan catatan kadar oksigen terlarut cukup tinggi, (Kasry, 1995).
Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi tergantung pada suhu, oksigen terlarut, dan kandngan garam-garam ionik suatu perairan. Kebanyakan perairan alami memiliki pH berkisar antara 6-9. Sebagian besar biota perairan sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat menentukan dominasi fitoplankton. Pada umumnya alga biru lebih menyukai pH netral sampai basa dan respon pertumbuhan negatif terhadap asam (pH<6). Chrysophyta umumnya pada kisaran pH 4,5-8,5 dan pada umumnya diatom pada kisaran pH yang netral akan mengandung keanekaragaman jenisnya, (Effendi, 2003 ).
Menurut Sanusi, (2004) dalam Yazwar (2008), mengatakan bahwa nilai DO yang berkisar diantara 5,45-7,00 mg/l cukup baik bagi proses kehidupan biota perairan.Barus(2001) dalam Yazwar(2008), menegaskan bahwa nilai oksigen terlarut di perairan sebaiknya berkisar antara 6,3 mg/l, makin rendah nilai DO maka makin tinggi tingkat pencemaran suatu ekosistem perairan tersebut.Untuk menghitung konsentrasi DO dalam perairan dapat di hitung dengan rumus;
DO= (V ( titran) x N ( titran) x 8 x 1000)/ V Botol titran-4
Dimana:
V( titran)= Volum larutan yang di pakai saat titrasi (ml), N( titran)= Konsentrasi Na-thiosulfat 0,025 N, V botol DO= Volum bool yang di gunakan untuk menampung sampel.
BAB III
METODELOGI KERJA
3.1 Alat Dan Bahan
            Adapun alat-alat yang digunakan pada saat praktikum diantaranya : wadah (toples) / aquarium, pH meter dan jaring.
            Sedangkang bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membantu ada saat proses diantaranya : ikan Mas / Nila 3-5 bulan 2 ekor, ikan Lele / Gabus 3-5 bulan 2 ekor, deterjen dan asam cuka.
3.2 Cara Kerja
ü  Ikan yang akan dijadikan sampel praktikum diaklitimasi terlebih dahulu pada wadah aquarium yang telah diisi air yang bersih.
ü  Selanjutnya disiapkan enam aquarium untuk dibagi masing-masing yaitu tiga aquarium untuk pH air asam dan tiga akuarium untuk perlakuan pH air basa.
ü  Dengan menggunakan pH meter diukur pH air masing-masing akuarium. Diberi asam cuka sedikit demi sedikit sampai kadar sesuai dengan perlakuan yang diinginkan. Untuk mengaur pH basa diberikan perlakuan penambahan deterjen sedikit demi sedikit sampai pH basa sesuai dengan yang diinginkan.
ü  Perlakuan lingkungan akuarium yang bersifat pH asam diatur dengan pemberian asam cuka  sampai pH air terbagi menjadi 6 bagian diantaranya : pH 6, pH 5, pH 4, pH 3, pH 2 dan  pH 1.
ü  Perlakuan lingkungan akuarium yang bersifat pH basa diatur dengan pemberian deterjen  sampai pH air terbagi menjadi 3 bagian diantaranya : pH 8, pH 9 dan  pH 10
ü  Kemudian diambil ikan menggunakan jaring dan di masukkan ikan sampel tersebut ke dalam wadah yang telah diberi perlakuan asam dan basa.
ü  Pengamatan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan waktu selama 5 menit pertiap perlakuan, diamati apa yang terjadi pada ikan sampel dan dicatat hasilnya.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 hasil pengamatan
Jenis Ikan
Waktu
Gerakan  Operculum pH asam
Gerakan operkulum pH basa
pH 6
pH 5
pH 4
pH 3
pH 2
pH 1
pH 8
pH 9
pH 10

Ikan Nila

5

442

285

257

235

61

43




Ikan Lele

5


5

5

5

4

2

1

249

157

50

4.2 pembahasan
Derajat keasaman ini Ph sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka. Fluktuasi pH air sangat di tentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila alkalinitasnya tinggi maka air tersebut akan mudah mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap “gangguan” terhadap pengubahan pH. Dengan demikian kunci dari penurunan pH terletak pada penanganan alkalinitas dan tingkat kesadahan air. 
            Percobaan dilakukan menggunakan ikan nila dan ikan lele untuk kondisi lingkungan yang asam, dan media air ditambah dengan asam cuka untuk pH asam mulai dari  pH 6 – pH 1, pada saat pH 6 dan pH 5 ikan lele masih bertahan meskipun ikan lele merasakan hal yang tidak aman dan nyaman, tetapi ikan ini masih memiliki toleransi dan mampu bertahan hidup, dari hasil praktikum pada saat pH 4 ikan lele mulai mengeluarkan lendir dan bukaan operkulum ikan lele tersebut sangat sedikit antara 6-5 bukaan, sedangkan pH 3 ikan lele mulai gelisah, dan menabrak-nambrak kaca akuarium dan berusaha mengambil oksigen dari permukaan serta kembali mengeluarkan lendir dan berwarna pucat.
            Kondisi ikan lele pada kondisi pH 2, permukaan kulit ikan lele terlihat bercak-bercak yang menandakan pembuluh darah ikan mulai pecah di dalam tubuh, hal ini dikarenakan ketahanan tubuh ikan lele untuk kondisi asam di luar ambang toleransi. Pada pH 1 ikan lele tersebut mengeluarkan lendir yang cukup banyak, serta mengalami pendarahan yang hebat yaitu darah keluar melalui celah insang, sungut dan mulut tanpa berhenti dikarenakan pembuluh darah yang sudah pecah, sedangkan organ pernapasan labirin dan insang digunakan semaxsimal mungkin untuk mengambil oksigen (respirasi), keadaan mulut selalu terbuka, hal ini dikarenakan semakin asam kondisi perairan maka oksigen di perairan tersebut  semakin miskin. Dan jika kondisi ini dalam keadaan lama, ikan lele akan mengalami kematian.
            Hal yang sama juga terjadi pada ikan nila, semakin tinggi tingkat keasaman pada lingkungan perairan maka akan semakin sedikit aktifitas bukaan operkulum, hal yang aneh juga terjadi pada ikan nila, yaitu pada saat pH 3 sirip ikan nila hanya sebelah yang aktif sedangkan yang sebelah lagi diam seakan sirip tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk berenang (lumpuh). Pada saat pH 1 merupakan kondisi perairan yang melewati ambang toleransi pada ikan nila, membuat ikan nila sangat gelisah (lompat-lompat), warna sisik terlihat semakin bercak-bercak hitam yang berarti pembuluh darah ikan nilai mulai pecah di dalam tubuh ikan tersebut, sedangkan  mata ikan tersebut juga sudah tidak dapat digunakan untuk melihat (buta), membuat ikan tersebut sering menabrak kaca, serta mulut dalam keadaan terbuka.
            Selanjutnya ikan lele dalam kondisi perairan yang basa, pada pH 8 ikan lele masih mentolerin lingkungan dan belum terjadi sesuatu pada ikan tersebut, bisa dikatan ikan masih keadaan normal, kemudian deterjen dengan kadar tertentu ditambahkan kembali di perairan tersebut sampai pH 9, kondisi ini membuat permukaan kulit dan sungut mulai mengeluarkan lendir yang cukup banyak serta pembuluh darah mulai pecah ditandai dengan adanya bercak-bercak merah pada setiap sirip, daerah insang dan daerah anus. Kemudian pH air dinaikkan sampai pH 10, yang terjadi pada ikan lele adalah darah keluar melalui celah penutup insang, gelembung – gelembung udara keluar dari mulut dan celah insang, keseimbangan tubuh mulai hilang membuat ikan lele miring ke samping, hasil pengamatan tersebut mnunjukkan bahwa ikan juga tidak bertahan hidup jika perairan tempat hidupnya memiliki kondisi pH yang basa, dan hal ini akan membuat ikan lele mengalami kematian.

BAB V
PENUTUP
5.1 kasimpulan
            Adapun yang dapat disimpulkan dari prakikum ini dinataranya :
ü  Ikan akan mengalami kematian jika kondisi perairan asam.
ü  Ikan akan mengalami kematian jika kondisi perairan basa.
ü  Pada saat perairan dalam kondisi asam dan basa kadar oksigen di dalam perairan tersebut sedikit.

5.2 saran
             Seharusnya praktikum dimulai dari awal semeter agar pembelajaran semaxsimal mungkin, karena kalau kita mulai praktikum di akhir semester pembelajaran tidak akan efektik, seperti ini kita hanya belajar 5 bab, sedangkan 6 bab lainya kapan kita belajar, bahkan langsung final, yah ketinggalan bab dec,,











DAFTAR PUSTAKA