BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Dengan majunya perkembangan teknologi di dunia
ini adalah akibat banyaknya pertumbuhan penduduk disetiap wilayah. Ini
diakibatkan karena sumber daya manusia pun meningkat. Apalagi sekarang
pendidikan untuk setiap manusia menjaid prioritas utama di suatu wilayah.
Dengan majunya teknologi sesuatu yang dulu mustahil menjadi mungkin saja
terjadi. Pengetahuan manusia yang berkembang yang membuat dunia ini begitu
berbeda dengan dahulu. Semua kebutuhan manusia menjadi sangat mudah terpenuhi.
Namun,
semua itu tidak lepasnya dari dampak negatif yang terjadi. Permasalahan –
permasalahan pun timbul akibat kemajuan teknologi. Akibat keserakahan manusia
yang terkena imbas akibat ulah manusia adalah alam. Pencemaran terjadi dimana –
mana baik di darat, perairan, udara dan yang lainnya terkena akibat dampak
kemajuan teknologi tersebut.
Salah
satunya adalah masalah yang ada di perairan yang saat ini sering terjadi. Ada
beberapa indicator yang dapat kita lihat dalam menentukan suatu perairan masih
baik atau sudah tercemar yaitu :
ü Faktor
fisika : tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya
perubahan warna, bau dan rasa, bahan padat (solid), gaya antar listrik,
radioaktifitas, dan viskositas.
ü 2.
Faktor kimia : zat kimia yang terlarut, perubahan pH, potensial reduksi –
oksidasi, alkalinitas, kesadahan, asiditas, kebutuhan oksigen, hydrogen, dan
fosfat.
pH
merupakan salah satu hal penting dalam menentukan kualitas air suatu perairan.
pH umumnya mengalami peningkatan akibat dari perairan yang sudah tercemar oleh
ulah manusia itu sendiri. Itu karena banyaknya limbah, ataupun bahan organic
dan anorganik yang mencemari perairan tersebut. Walaupun ada beberapa factor
lain yang dapat menyebabkan itu terjadi selain ulah manusia.
1.2 tujuan praktikum
Tujuan
dari praktikum ini dilaksanakan adalah, agar mahasiswa dapat mengetahui kondisi
fisik dan tingkah laku dari ikan ketika berada pada media air memiliki kondisi
asam dan basa.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Sebagian
besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH
sekitar 7 – 8,5. nilai pH sangat mempaengaruhi proses biokomia perairan,
misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Sedangkan menurut
Haslam, 1995 (dalam Effendi, 2003) menambahkan bahwa pada pH < 4, sebagian
besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertolerensi terhadap pH rendah, (Novotny
dan Olem, 1994).
Tingginya
tingkat CO2 bebas dalam air dihasilkan dari proses perombakan bahan organic dan
mikroba. Kadar karbondioksida bebas yang dikehendaki tidak lebih dari 12 mg/l
dan kandungan terendah adalah 2 mg/l. Kandungan karbondioksida bebas diperairan
tidak lebih dari 25 mg/l dengan catatan kadar oksigen terlarut cukup tinggi, (Kasry,
1995).
Batas
toleransi organisme terhadap pH bervariasi tergantung pada suhu, oksigen
terlarut, dan kandngan garam-garam ionik suatu perairan. Kebanyakan perairan
alami memiliki pH berkisar antara 6-9. Sebagian besar biota perairan sensitif
terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat
menentukan dominasi fitoplankton. Pada umumnya alga biru lebih menyukai pH
netral sampai basa dan respon pertumbuhan negatif terhadap asam (pH<6). Chrysophyta
umumnya pada kisaran pH 4,5-8,5 dan pada umumnya diatom pada kisaran pH yang
netral akan mengandung keanekaragaman jenisnya, (Effendi, 2003 ).
Menurut
Sanusi, (2004) dalam Yazwar (2008), mengatakan bahwa nilai DO yang berkisar
diantara 5,45-7,00 mg/l cukup baik bagi proses kehidupan
biota perairan.Barus(2001) dalam Yazwar(2008), menegaskan bahwa nilai
oksigen terlarut di perairan sebaiknya berkisar antara 6,3 mg/l, makin rendah
nilai DO maka makin tinggi tingkat pencemaran suatu ekosistem
perairan tersebut.Untuk menghitung konsentrasi DO dalam perairan dapat
di hitung dengan rumus;
DO=
(V ( titran) x N ( titran) x 8 x 1000)/ V Botol titran-4
Dimana:
V(
titran)= Volum larutan yang di pakai saat titrasi (ml), N( titran)= Konsentrasi
Na-thiosulfat 0,025 N, V botol DO= Volum bool yang di gunakan untuk menampung
sampel.
BAB
III
METODELOGI
KERJA
3.1 Alat Dan Bahan
Adapun
alat-alat yang digunakan pada saat praktikum diantaranya : wadah (toples) /
aquarium, pH meter dan jaring.
Sedangkang bahan-bahan yang dapat
digunakan untuk membantu ada saat proses diantaranya : ikan Mas / Nila 3-5
bulan 2 ekor, ikan Lele / Gabus 3-5 bulan 2 ekor, deterjen dan asam cuka.
3.2 Cara Kerja
ü Ikan
yang akan dijadikan sampel praktikum diaklitimasi terlebih dahulu pada wadah
aquarium yang telah diisi air yang bersih.
ü Selanjutnya
disiapkan enam aquarium untuk dibagi masing-masing yaitu tiga aquarium untuk pH
air asam dan tiga akuarium untuk perlakuan pH air basa.
ü Dengan
menggunakan pH meter diukur pH air masing-masing akuarium. Diberi asam cuka
sedikit demi sedikit sampai kadar sesuai dengan perlakuan yang diinginkan.
Untuk mengaur pH basa diberikan perlakuan penambahan deterjen sedikit demi
sedikit sampai pH basa sesuai dengan yang diinginkan.
ü Perlakuan
lingkungan akuarium yang bersifat pH asam diatur dengan pemberian asam
cuka sampai pH air terbagi menjadi 6
bagian diantaranya : pH 6, pH 5, pH 4, pH 3, pH 2 dan pH 1.
ü Perlakuan
lingkungan akuarium yang bersifat pH basa diatur dengan pemberian deterjen sampai pH air terbagi menjadi 3 bagian
diantaranya : pH 8, pH 9 dan pH 10
ü Kemudian
diambil ikan menggunakan jaring dan di masukkan ikan sampel tersebut ke dalam
wadah yang telah diberi perlakuan asam dan basa.
ü Pengamatan
dilakukan secara bertahap dengan menggunakan waktu selama 5 menit pertiap
perlakuan, diamati apa yang terjadi pada ikan sampel dan dicatat hasilnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 hasil pengamatan
|
Jenis
Ikan
|
Waktu
|
Gerakan Operculum pH asam
|
Gerakan
operkulum pH basa
|
|||||||
|
pH
6
|
pH
5
|
pH
4
|
pH
3
|
pH
2
|
pH
1
|
pH
8
|
pH
9
|
pH
10
|
||
|
Ikan
Nila
|
5
|
442
|
285
|
257
|
235
|
61
|
43
|
|
|
|
|
Ikan
Lele
|
5
|
5
|
5
|
5
|
4
|
2
|
1
|
249
|
157
|
50
|
4.2 pembahasan
Derajat
keasaman ini Ph sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia
mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain
itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu,
sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut
sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka. Fluktuasi pH air sangat di
tentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila alkalinitasnya tinggi maka air
tersebut akan mudah mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap
“gangguan” terhadap pengubahan pH. Dengan demikian kunci dari penurunan pH
terletak pada penanganan alkalinitas dan tingkat kesadahan air.
Percobaan dilakukan menggunakan ikan
nila dan ikan lele untuk kondisi lingkungan yang asam, dan media air ditambah
dengan asam cuka untuk pH asam mulai dari
pH 6 – pH 1, pada saat pH 6 dan pH 5 ikan lele masih bertahan meskipun
ikan lele merasakan hal yang tidak aman dan nyaman, tetapi ikan ini masih
memiliki toleransi dan mampu bertahan hidup, dari hasil praktikum pada saat pH
4 ikan lele mulai mengeluarkan lendir dan bukaan operkulum ikan lele tersebut
sangat sedikit antara 6-5 bukaan, sedangkan pH 3 ikan lele mulai gelisah, dan
menabrak-nambrak kaca akuarium dan berusaha mengambil oksigen dari permukaan
serta kembali mengeluarkan lendir dan berwarna pucat.
Kondisi ikan lele pada kondisi pH 2,
permukaan kulit ikan lele terlihat bercak-bercak yang menandakan pembuluh darah
ikan mulai pecah di dalam tubuh, hal ini dikarenakan ketahanan tubuh ikan lele
untuk kondisi asam di luar ambang toleransi. Pada pH 1 ikan lele tersebut
mengeluarkan lendir yang cukup banyak, serta mengalami pendarahan yang hebat
yaitu darah keluar melalui celah insang, sungut dan mulut tanpa berhenti
dikarenakan pembuluh darah yang sudah pecah, sedangkan organ pernapasan labirin
dan insang digunakan semaxsimal mungkin untuk mengambil oksigen (respirasi),
keadaan mulut selalu terbuka, hal ini dikarenakan semakin asam kondisi perairan
maka oksigen di perairan tersebut semakin
miskin. Dan jika kondisi ini dalam keadaan lama, ikan lele akan mengalami
kematian.
Hal yang sama juga terjadi pada ikan
nila, semakin tinggi tingkat keasaman pada lingkungan perairan maka akan
semakin sedikit aktifitas bukaan operkulum, hal yang aneh juga terjadi pada
ikan nila, yaitu pada saat pH 3 sirip ikan nila hanya sebelah yang aktif
sedangkan yang sebelah lagi diam seakan sirip tersebut tidak dapat digunakan
lagi untuk berenang (lumpuh). Pada saat pH 1 merupakan kondisi perairan yang
melewati ambang toleransi pada ikan nila, membuat ikan nila sangat gelisah
(lompat-lompat), warna sisik terlihat semakin bercak-bercak hitam yang berarti
pembuluh darah ikan nilai mulai pecah di dalam tubuh ikan tersebut,
sedangkan mata ikan tersebut juga sudah
tidak dapat digunakan untuk melihat (buta), membuat ikan tersebut sering
menabrak kaca, serta mulut dalam keadaan terbuka.
Selanjutnya ikan lele dalam kondisi
perairan yang basa, pada pH 8 ikan lele masih mentolerin lingkungan dan belum
terjadi sesuatu pada ikan tersebut, bisa dikatan ikan masih keadaan normal,
kemudian deterjen dengan kadar tertentu ditambahkan kembali di perairan
tersebut sampai pH 9, kondisi ini membuat permukaan kulit dan sungut mulai mengeluarkan
lendir yang cukup banyak serta pembuluh darah mulai pecah ditandai dengan
adanya bercak-bercak merah pada setiap sirip, daerah insang dan daerah anus.
Kemudian pH air dinaikkan sampai pH 10, yang terjadi pada ikan lele adalah
darah keluar melalui celah penutup insang, gelembung – gelembung udara keluar
dari mulut dan celah insang, keseimbangan tubuh mulai hilang membuat ikan lele
miring ke samping, hasil pengamatan tersebut mnunjukkan bahwa ikan juga tidak
bertahan hidup jika perairan tempat hidupnya memiliki kondisi pH yang basa, dan
hal ini akan membuat ikan lele mengalami kematian.
BAB V
PENUTUP
5.1
kasimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan dari prakikum ini
dinataranya :
ü Ikan
akan mengalami kematian jika kondisi perairan asam.
ü Ikan
akan mengalami kematian jika kondisi perairan basa.
ü Pada
saat perairan dalam kondisi asam dan basa kadar oksigen di dalam perairan
tersebut sedikit.
5.2
saran
Seharusnya praktikum dimulai dari awal semeter
agar pembelajaran semaxsimal mungkin, karena kalau kita mulai praktikum di
akhir semester pembelajaran tidak akan efektik, seperti ini kita hanya belajar
5 bab, sedangkan 6 bab lainya kapan kita belajar, bahkan langsung final, yah
ketinggalan bab dec,,
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar